skip to main |
skip to sidebar
Maulidur Rasul
Ketika
mereka telah berhasil menduduki tempat yang dimaksud, Sa’ad ibn Muadz
berkata kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam, “Wahai Nabi Allah!
Tidakkah kami perlu membangun kemah khusus untuk tempat istirahatmu,
menyiapkan hewan kendaraanmu dan kemudian kita baru menyerang musuh
kita? Sungguh, seandainya Allah memberikan kemenangan dan kejayaan
kepada kita atas musuh-musuh kami, maka itulah yang kami inginkan.
Namun, bila kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya, maka engkau sudah
siap untuk menyelamatkan diri dan menemui kaum kita. Wahai Rasulullah,
sesungguhnya ada beberapa kaum yang menantimu di tanah air kita dan
kecintaan mereka terhadapmu lebih besar dari kami. Sehingga, bila mereka
mendengar bahwa engkau berperang, niscaya mereka pun tidak akan tinggal
diam. Allah pasti akan melindungimu dengan mereka. Sebab mereka pasti
akan memberimu pertimbangan dan senantiasa berjuang di belakangmu.”
Maka, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam pun menyepakati usulan Sa’ad
tersebut.
Setiap
kali akan berangkat bertempur, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam
selalu terlebih dahulu merapatkan barisan pasukan kaum muslimin. Dia
melakukan inspeksi barisan seraya menggenggam sebuah anak panah. Saat
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam sedang melakukan pemeriksaan
barisan, tiba-tiba beliau menekankan anak panah beliau ke perut Sawad
ibn Ghaziyyah. Pasalnya, waktu itu ia agak sedikit keluar dari barisan.
Beliau berkata kepadanya, “Sawad, luruskan barisanmu!” Sawad pun
menjawab, “Rasulullah, engkau telah menyakitiku, maka bolehkah aku
membalasmu?” Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam membuka bagian
perut beliau seraya berkata, “Lakukanlah!” Akan tetapi, Sawad ternyata
tidak jadi membalas, tetapi justru memeluk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi
wasalam dan mencium bagian perut beliau. Dengan heran, Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wasalam bertanya, “Apa yang membuatmu seperti ini,
Sawad?”
Beliau
berkata, “Apabila mereka mendekati kalian, maka serang mereka dengan
anak panah kalian dan jangan sampai didahului oleh mereka! Ingat, jangan
sampai kalian melupakan pedang kalian hingga kalian lengah dan dapat
dirobohkan.” Setelah berpesan demikian, beliau lantas mengobarkan
semangat pasukan muslimin dengan berkata, “Demi Allah yang jiwa Muhammad
berada di genggaman-Nya, setiap orang yang berperang melawan mereka
(pasukan Quraisy) pada hari ini, kemudian mati dalam keadaan tabah,
mengharapkan keredhaan Allah, maju terus pantang mundur, pasti akan
dimasukkan ke dalam surga. “
Di
dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dikatakan bahwa ketika kaum
musyrikin telah mendekat, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam berkata,
“Bangkitlah kalian untuk menuju syurga yang luasnya seperti luas langit
dan bumi.” Mendengar ucapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam
tersebut, Umair ibn Humam al-Anshari berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah
benar syurga memiliki luas seperti luas langit dan bumi?” Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wasalam menjawab, “Benar.” Dengan terkagum-kagum,
Umair berucap, “Oh, betapa besarnya syurga itu!” Lalu, Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wasalam bertanya kepada Umair, “Mengapa engkau
berkata demikian?” Umair menjawab, “Tidak, Rasulullah. Demi Allah, aku
hanya berharap menjadi bagian dari penghuninya.” Beliau berkata, “Engkau
akan menjadi salah satu penghuninya. “
Ketika
Abu Hudzaifah mendengar perintah itu, ia berkata, “Apakah kami harus
membunuh bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, dan keluarga kami,
sementara kami harus membiarkan Abbas hidup? Demi Allah, bila aku
bertemu dengannya, niscaya aku akan menebasnya dengan pedang.” Akhirnya,
ucapan tersebut sampai ke telinga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam
Maka, beliau pun berkata kepada Umar, “Wahai Abu Hafshah, benarkah ia
akan memukul wajah paman Rasulullah dengan pedang?” Umar berkata, “Wahai
Rasulullah, izinkan saya untuk memenggal lehernya dengan pedang. Demi
Allah, ia telah berbuat kemunafikan.” Sementara itu, beberapa waktu
kemudian, Abu Hudzaifah berkata, “Aku merasa tidak tenteram dengan
kata-kataku saat itu. Bahkan sampai sekarang aku masih merasa takut,
kecuali bila aku sudah menebusnya dengan kesyahidan.” Maka, akhirnya Abu
Hudzaifah pun mati syahid pada perang Yamamah.
Dikisahkan
bahwa sebelum peperangan dimulai, Asad ibn Abdul Asad al-¬Makhzumi
keluar dari pasukan Quraisy seraya berkata, “Demi tuhan, aku
sungguh-sungguh akan meminum air kolam mereka, akan merusaknya (kolam
air), atau mati di hadapannya.” Maka, ketika ia sudah mendekat, Hamzah
pun merintanginya dan menyerangnya. Hamzah berhasil memukulnya hingga
kakinya retak. Akan tetapi, Asad masih terus merangkak menuju ke kolam
guna memenuhi sumpahnya dan Hamzah terus mengikutinya, memukul, dan
akhirnya membunuhnya di depan kolam tersebut.
SUMBER: http://www.islam2u.net/index.php?option=com_content&view=article&id=240:kelebihan-bulan-rabiulawal-dan-peristiwa-perang-badar&catid=14:kisah-kisah-sahabat&Itemid=75
PUCANGSEWU,PUCANG,CAHAYA,KALBU,ISLAM,BIOGRAFI,SEJARAH,RELIGI,DOWNLOAD,CAHAYA KALBU,PUCANG SEWU,NABI MUHAMMAD SAW
0 komentar:
Posting Komentar